Membaca Framing Media Anti Islam "Mendadak Khilafah" Untuk Sudutkan Islam Pada Acara Aiman | wong Daile
Home » » Membaca Framing Media Anti Islam "Mendadak Khilafah" Untuk Sudutkan Islam Pada Acara Aiman

Membaca Framing Media Anti Islam "Mendadak Khilafah" Untuk Sudutkan Islam Pada Acara Aiman



Mimbar Dakwah -- Kompas TV terbilang berani dengan mewancarai secara eksklusif Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), HM. Ismail Yusanto,  MM pada acara Aiman: Mendadak Khilafah, 12/07/2017. Sontak acara ini menjadi penantian bagi masyarakat dengan sikapnya masing-masing terhadap HTI.

Saya yakin banyak yang menyaksikan acara tersebut dengan harapannya masing-masing. Termasuk bagi yang awalnya tidak mengetahui atau tidak peduli dengan HTI, acara ini menjadi opsi menarik. Paling tidak menjadi tambahan informasi tentang HTI bagi mereka.

Bagi yang sejak awal sudah berbeda pendapat dengan HTI, saya membaca ini menjadi tambahan narasi argumen dalam membangun pandangan-pandangan mereka. Sebab, media mainstream ini sejak awal memiliki kecenderungan mendukung sikap pemerintah terhadap HTI, meski dibungkus dengan narasi objektifitas jurnalistik.

Menjadi menarik, paling tidak bagi saya adalah pertanyaan bagaimana sebenarnya Kompas TV melalui acara Aiman ini dalam membangun framingnya? Ternyata sesuai dengan prediksi awal saya. Bahwa acara ini sebenarnya hanya ingin menguatkan kembali narasi-narasi yang sebelumnya dibangun oleh pemerintah terhadap HTI.

Saya sangat mengapresiasi dengan Aiman yang mencoba menggali atau tepatnya memastikan isu hangat seputar HTI dengan memberikan kesempatan secara langsung kepada HTI, meski dengan waktu yang sangat singkat.

Hanya saja, saya melihat framing yang dibangun dalam acara tersebut mengarahkan pada persepsi tertentu. Sepertinya kesan yang dibangun pertama adalah bahwa HTI memiliki kedekatan secara konseptual dengan ISIS, bahkan seakan ISIS adalah bagian dari HTI dengan gaya perjuangan yang lain.

Kedua, kembali isu Pancasila digunakan kembali untuk membenturkan dengan gagasan-gagasan HTI. Ketiga, ada narasi dalam membangun persepsi masyarakat bahwa gagasan HTI, dalam hal ini Khilafah adalah sesuatu yang tidak relevan.

Dengan framing seperti ini, tentu dampaknya akan sangat menjauhkan dari nalar objektifitas. Sebab, dalam banyak kesempatan saya mendengar dan mengkaji isu-isu penting dalam HTI tidaklah sejalan dengan framing acara tersebut.

Sehingga akan ada kesalahpahaman yang lebih terhadap HTI. Yang sebenarnya jika HTI diberikan ruang lebih untuk menjelaskan, maka akan ada titik temu dalam perbaikan dan pembangun negeri Indonesia.

Saya hanya yakin, rakyat indonesia adalah orang yang cerdas dan objektif dalam menilai setiap persoalan. Utamanya tentang HTI, rakyat dengan sikap terbuka melihat persoalan negeri, mereka justeru akan mengamini dan mendukung apa yang dilakukan oleh HTI.

Jikapun ada yang belum mendukung HTI, itu hanya persoalan kesalahpahaman terhadap HTI. Di sinilah sebenarnya pemerintah dituntut untuk memberikan ruang kepada HTI agar tidak ada lagi kesalahpahaman. Sehingga sinergi akan terwujud dalam membangun negeri menjadi lebih baik.

Jogja, 12 Juni 2017

Lutfi Sarif Hidayat,  SEI
Direktur Civilization Analysis Forum (CAF)
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. wong Daile - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger