Film Propaganda Anti Islam | wong Daile
Home » » Film Propaganda Anti Islam

Film Propaganda Anti Islam

GERAKAN RAKYAT - Karya adalah hasil dari sebuah proses pengembangan ide berbahan dasar pengalaman serta wawasan, yang kita sepakati untuk tinggal dalam kepala kita sesuai dengan masa yang kita inginkan. Buku, film, tulisan, gambar, coretan dinding, quote sederhana, aksi sosial, bahkan sekedar status di medsos adalah karya yang berasal dari seluruh proses tersebut. Dengan proses yang sama pula, lahirlah karya-karya sinema idealis semacam 3 (Alif-Lam-Mim) dan Kau adalah Aku Yang Lain.

Sepintas, secara ide keduanya bertolak belakang satu sama lain. Namun jika dicermati, keduanya memiliki benang merah yang sama-sama menjelaskan ada seseorang atau sekelompok orang dengan sengaja menggunakan kekuasaan membuat skenario untuk memaksakan ide sepihaknya menjadi ide bersama masyarakat berada dibawah kendalinya.

Jika masih ingat, pada film 3 (Alif-Lam-Mim) diceritakan adanya segelintir oknum aparat pesanan yang dibayar untuk men-setting situasi yang meneror masyarakat dengan meng-kambing hitam-kan salah satu pesantren sebagai biang kerok atas kekacauan Indonesia, yang kala itu (tahun 2036) diceritakan  sudah berada pada keadaan damai dan kondusif. Dengan menganut sistem liberalisme, tentu saja dunia pesantren dan nilai-nilai yang diajarkan didalamnya menjadi barang langka dan asing alias minoritas di era tersebut. Kondisi ini semakin membuat pesantren menjadi sasaran empuk rekayasa kasus terorisme, karena nilai-nilai yang diajarkan oleh pesantren dianggap telah berseberangan dengan paham liberalisme.

Dan celakanya lagi, dengan kekuasan yang bisa dibeli, para pemberantas terorisme hasil rekayasa segelintir penguasa itu sama sekali tidak tahu awalnya jika mereka dimanfaatkan dalam situasi yang direkadaya oleh atasannya sendiri. Mereka fight dengan nilai nasionalisme yang melekat. Namun tak paham kerusakan yang terjadi itu hanyalah rekaan semata.

Terkoreknya borok segelintir manusia ini mungkin menjadi salah satu penyebab terbesar film tersebut hanya bertahan selama tiga hari saja di bioskop.

Lalu apa hubungannnya dengan film Kau adalah Aku Yang Lain? Film pendek yang diturutkan di Festival Film Polisi yang sedang mendapatkan sorotan masyarakat luas karena dinilai memojokkan Umat Islam secara nyata.


Dalam film ini diceritakan betapa intolerannya Umat Muslim terhadap Umat diluar keyakinannya, dengan tidak mengijinkan ambulan berisikan seorang beragama Nasrani yang harus segera kerumah sakit hanya karena ambulan tersebut melewati tempat digelarnya acara pengajian.

Bahkan tak sampai disitu, ada beberapa ahli tenaga kesehatan yang juga ikut dipojokkan karena ada sebagian adegan tentang kinerja ahli medik pada film itu,  yang sama sekali tak sesuai dengan kondisi di lapangan.

Namun apapun komentar masyarakat yang tidak setuju dengan ide dari film pendek tersebut, toh tetap saja film itu memenangkan festival film pendek yang diselenggarakan oleh Polri sebagai institusi pelindung dan pengayom masyarakat.

Mengapa film ini seperti punya garis singgung yang begitu tebal dengan film 3 (Alif-Lam-Mim)? Disinyalir film pendek pemenang
Festival Film Polisi tersebut pun dibuat sedemikian kontroversi berdasarkan pesanan segelintir kelompok pemegang kekuasaan, yang bermaksud menyampaikan pesan singkat secara sistematis tentang Islam sebagai agama intoleran yang mengajarkan kekerasan.

Keduanya sama-sama menceritakan tentang adanya pemangku kekuasaan yang dapat menggunakan kekuasaan dengan sesuka hatinya demi mengekalkan kejayaan hidup, tanpa memperdulikan rusaknya tatanan keadilan dan kemanusiaan yang seharusnya dijaga.

Bedanya, jika yang satu dimasukkan dalam skenario film dan menjadi ide dasarnya, yang lainnya justru tidak ada dalam adegan film, namun berperan besar hingga film tersebut sukses terpublikasi dan dimenangkan sebagai ide pemersatu bangsa paling mukhtahir saat ini.

Sayangnya masyarakat tidak bodoh dan dapat menilai dengan hati yang jernih. Bahwa pada kedua film itu semakin terlihat kepicikan segelintir orang yang memiliki kekuasaan. Alih-alih melakukan ikhtiar mempererat persatuan bangsa, para pengguna kekuasaan itu sebaliknya telah melukai Umat Islam secara nyata. Belum juga usai cidera yang dirasa oleh Umat Islam atas kasus penistaan terhadap Al Qur�n, kembali, Umat Islam Bangsa Indonesia didera dengan stigmatisasi buruk melalui film pendek lulusan
Festival Film Polisi. Ini tak dapat dibiarkan. Demi kehormatan bangsa dan kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, ini harus diusut tuntas !   [Geikha/GR]
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. wong Daile - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger