4 Kemewahan yang Bisa Dinikmati Napi Berduit di Indonesia, Ssssttt.. Kebanyakan Para Koruptor | wong Daile
Home » » 4 Kemewahan yang Bisa Dinikmati Napi Berduit di Indonesia, Ssssttt.. Kebanyakan Para Koruptor

4 Kemewahan yang Bisa Dinikmati Napi Berduit di Indonesia, Ssssttt.. Kebanyakan Para Koruptor

Umatuna.com - Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berjanji mencopot dan memidanakan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) yang terbukti menerima suap untuk memuluskan keinginan narapidana berduit mendapatkan berbagai 'kemewahan'.

Yasonna Laoly mengutarakannya setelah investigasi Tempo mengungkap beberapa narapidana kasus korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, bisa keluar penjara tanpa pengawalan.

Temuan ini membuat Menteri Yasonna berang. Ia pun menegur para pejabat terkait, termasuk Kepala Lapas Sukamiskin Dedi Handoko.

"Saya tidak main-main lagi, kalau saudara menodai pekerjaan kita dan membuat semuanya dalam Kemenkumham menjadi malu dan sangat malu... tidak cukup saya pecat... saya pidanakan!" kata Yasonna sambil sesekali menggebrak meja pada rapat internal Kemenkumham, tak lama setelah Tempo mengungkapkan temuannya.

Laporan itu menyebut sejumlah nama terpidana korupsi antara lain mantan direktur PT Masaro Radiokom, Anggoro Widjojo, yang tersangkut kasus korupsi di Kementerian Kehutanan; mantan Wali Kota Palembang Romi Herton; dan mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin. Mereka diduga memanfaatkan izin berobat ke luar lapas untuk mengunjungi apartemen dan rumah kontrakan.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia berjanji mencopot dan memidanakan petugas lembaga pemasyarakatan (lapas) yang terbukti menerima suap untuk memuluskan keinginan narapidana berduit mendapatkan berbagai 'kemewahan'.

Yasonna Laoly mengutarakannya setelah investigasi Tempo mengungkap beberapa narapidana kasus korupsi di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung, bisa keluar penjara tanpa pengawalan.

Temuan ini membuat Menteri Yasonna berang. Ia pun menegur para pejabat terkait, termasuk Kepala Lapas Sukamiskin Dedi Handoko.

"Saya tidak main-main lagi, kalau saudara menodai pekerjaan kita dan membuat semuanya dalam Kemenkumham menjadi malu dan sangat malu... tidak cukup saya pecat... saya pidanakan!" kata Yasonna sambil sesekali menggebrak meja pada rapat internal Kemenkumham, tak lama setelah Tempo mengungkapkan temuannya.

Laporan itu menyebut sejumlah nama terpidana korupsi antara lain mantan direktur PT Masaro Radiokom, Anggoro Widjojo, yang tersangkut kasus korupsi di Kementerian Kehutanan; mantan Wali Kota Palembang Romi Herton; dan mantan Bupati Bogor, Rachmat Yasin. Mereka diduga memanfaatkan izin berobat ke luar lapas untuk mengunjungi apartemen dan rumah kontrakan.
Image caption Wartawan dan penulis Arswendo Atmowiloto mengatakan narapidana berduit sering memanfaatkan izin-izin resmi keluar penjara untuk pelesir.

Wartawan dan penulis Arswendo Atmowiloto, yang pernah mendekam di LP Cipinang selama lima tahun pada awal 1990-an, mengatakan praktik semacam itu memang lumrah dilakukan narapidana yang berduit. Bahkan, menurutnya, itu bagian dari tradisi.

"Yang mereka gunakan itu adalah kesempatan-kesempatan yang secara peraturan ada tapi memang hanya orang-orang tertentu, yang berduit, yang bisa memanfaatkan. Contoh, misalnya, berupa keluar penjara. Itu berlaku untuk semuanya, itu ada peraturannya. Dari situlah kemudian mereka mempergunakan kesempatan itu keluar, untuk pergi pagi-pulang sore, dan lain sebagainya.

"Dan itu dimungkinkan karena secara tradisi, kalau di Cipinang itu, sejak tahun 1912 sudah berlangsung. Tinggal meneruskan saja tradisi ini," tutur Arswendo kepada BBC Indonesia.

Beberapa narapidana di LP Sukamiskin juga diduga memiliki saung-saung tempat menerima keluarga narapidana yang berkunjung atau mengadakan kegiatan. Saung tersebut dilengkapi sejumlah fasilitas yang terbilang mewah untuk lembaga pemasyarakatan, antara lain sofa empuk, kulkas, pemanas air minum, dan sound system.

Berita tentang gaya hidup nonminimalis narapidana korupsi memang bukan hal baru. Berikut ini beberapa 'kemewahan' dalam bui yang dilaporkan bisa dinikmati para napi berduit:

1. Pergi ke luar kota

Pada 2010, wartawan yang meliput pertandingan tenis antara Hantuchova dan Yanina Wickmayer dalam turnamen Commonwealth Bank Tournament of Champions di Nusa Dua, Bali dibuat geger oleh seorang pria berambut belah tengah dan berkaca mata. Dialah Gayus Tambunan, terdakwa kasus mafia hukum dan mafia pajak, yang saat itu tengah ditahan di Rumah Tahanan Brimob Kepala Dua, Depok.
Image caption Saat kepergok wartawan di Bali, Gayus menyamar dengan mengenakan wig dan kaca mata.

Meski sempat membantah, Gayus akhirnya mengaku dirinya memang pergi ke Bali untuk menonton pertandingan tenis.

Tak sekedar ke luar kota; selama menjadi tahanan di Rutan, Gayus bahkan sempat ke luar negeri. Dengan paspor palsu atas nama Sony Laksono, Gayus mengaku sempat berpelesir ke Makau, Kuala Lumpur, dan Singapura.

Demi melancarkan rencananya itu, Gayus menghabiskan puluhan juta untuk menyuap sejumlah petugas Rutan Mako Brimob, termasuk kepala Rutan, Kompol Iwan Suswanto.

Mantan Wali Kota Palembang, Romi Herton, dan istrinya, Masyito, yang sedang mendekam di LP Sukamiskin, juga dilaporkan sempat pergi ke Palembang tanpa pengawalan. Mereka beralasan menjenguk anak mereka yang sakit. Pasangan itu adalah terpidana kasus suap hakim Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar.

Arswendo mengatakan, para napi yang bepergian ke luar penjara biasanya memanfaatkan tiga jenis izin: berobat, menjenguk anggota keluarga yang sakit, dan kerja sosial.
2. Fasilitas mewah dalam sel

Di penjara, Artalyta Suryani menikmati kamar mandi pribadi, televisi layar datar, dan ruang karaoke.

Pengusaha yang dihukum lima tahun penjara karena menyuap jaksa itu kepergok sedang menerima perawatan kecantikan dalam selnya yang mewah di Rutan Kelas II Pondok Bambu, Jakarta Timur. 'Istana dalam penjara' milik Arlyta dan beberapa narapidana lainnya terungkap ketika tim yang dibentuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melakukan inspeksi mendadak ke penjara perempuan itu pada 2010.
Image caption Sejumlah narapidana diduga menyuap petugas lapas demi menikmati 'kebebasan sesaat' di luar penjara.

Sampai sekarang, praktik ini dilaporkan masih terus berlanjut. Investigasi Tempo menyebutkan narapidana di LP Sukamiskin bisa merenovasi sel mereka dan menambah perabot seperti televisi, toilet duduk, dan kipas angin. Napi juga dapat memesan makanan dari luar lapas, dan bahkan menggelar pesta sampai mengundang artis.

3. Makan di restoran

Nama Gayus Tambunan kembali menjadi bahan perbincangan ketika pada September 2015, beredar foto seorang pria yang mirip dengannya bersama dua orang perempuan di sebuah restoran di Jakarta. Saat itu, dia tengah menjalani hukuman penjara 30 tahun di LP Sukamiskin.
Image caption Foto Gayus yang beredar di media sosial, September 2015 lalu.

Ditjenpas membenarkan bahwa Gayus Tambunan makan di luar tahanan. Dia diizinkan pihak lapas keluar tahanan untuk menghadiri sidang gugatan cerai oleh istrinya di Pengadilan Agama Jakarta Utara. Akibat sering keluyuran ke luar penjara, Gayus dipindahkan ke LP kelas III dengan penjagaan ketat di Gunung Sindur, Bogor.

Mantan Wali Kota Bekasi, Mochtar Mohamad, yang menjadi terpidana kasus perkara suap, juga pernah kedapatan makan malam di restoran masakan Sunda di Jakarta Selatan pada Oktober 2014. Napi LP Sukamiskin itu berdalih sedang mengikuti program asimilasi.

4. 'Bilik Asmara'

Gembong narkoba yang telah dieksekusi mati, Freddy Budiman, dilaporkan sering memanggil kekasihnya ke dalam bui.
Image caption Gembong narkoba Freddy Budiman dilaporkan pernah membawa kekasihnya ke ruangan khusus dalam Lapas Cipinang untuk berhubungan seks.

Mantan kekasih Freddy, Vanny Rossyane, menunjukkan serangkaian foto bukti keberadaan 'bilik asmara' di LP Cipinang. Tempat itu sering dimanfaatkan untuk melakukan hubungan seks dan menikmati narkoba. Dalam wawancara di sejumlah media, Vanny menyebut ruangan itu kantor kepala lembaga pemasyarakatan.

Untuk diketahui, narapidana memang memiliki hak untuk menerima kunjungan keluarga, penasihat hukum, atau orang tertentu lainnya serta mendapatkan kesempatan berasimilasi termasuk cuti mengunjungi keluarga. Namun tidak ada aturan yang membolehkan napi berhubungan seks di dalam penjara.

Meskipun begitu, Arswendo yang merupakan mantan tahanan di LP Cipinang mengatakan memang ada "ruangan khusus" yang dapat disewa narapidana untuk dipakai berhubungan seks.

"Begitu kebutuhan seksnya ada, dan dia punya duit ya jadi... Bukan rahasia kalau tempatnya tertutup begitu, orang di situ 24 jam, ada istrinya... itu cepat, semua orang juga tahu."
Image caption Menkumham Yasonna Laoly memindahkan sejumlah napi di LP Sukamiskin ke LP Gunung Sindur yang berpenjagaan ketat.

Setelah praktik pelesiran ke luar lapas ini terungkap, Menkumham Yasonna Laoly mengatakan akan memindahkan sejumlah penghuni LP Sukamiskin ke LP Gunung Sindur, Bogor, secara bertahap.

Menkumham juga memerintahkan agar saung-saung 'mewah' di LP Sukamiskin dibongkar dan diganti dengan fasilitas baru yang dibangun pemerintah.

Juru bicara Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan, Syarpani, bersikeras bahwa narapidana yang keluar dari LP Sukamiskin selalu dikawal oleh petugas lapas, polisi, atau petugas medis, namun mengakui kesalahan prosedur mungkin ada. Ia juga membantah bahwa saung-saung di dalam Lapas tersebut dimiliki narapidana.

"Kan ruang kunjungan itu bermacam-macam ya... tinggal kesepakatan atau bagaimana nyamannya pengunjung. Jadi itu hanya masalah tempat saja. Kalau disebut itu dibangun narapidana ya... itu yang sedang kita dalami," kata Syarpani kepada BBC Indonesia.

Dia menambahkan, pihaknya tengah menyelidiki indikasi praktik pungli dalam penjara.

"Ibu kepala kantor wilayah, Bu Susy (Susilawati) sudah menegaskan semua pengeluaran sesuai standar, sesuai prosedur. Terus masalah yang ada di dalam sedang dikaji. Ruang kunjungan itu sekarang sedang dibongkar, dirapikan sesuai ketentuan. Jadi adanya indikasi menyuap dan sebagainya itu kan kita dalami," tuturnya.
Perlu rotasi

Komitmen itu dihargai pakar kriminologi dan mantan anggota Kompolnas, Adrianus Meliala. Namun menurut dia, masalah pungli tidak cukup dipecahkan dengan penghukuman.
Image caption Pakar kriminologi Adrianus Meliala berpendapat petugas lapas perlu dirotasi secara rutin untuk mencegah praktik korupsi.

Adrianus menilai semuanya tergantung pada perilaku sipir, mengingat LP adalah lembaga inkapasitasi yang bertugas memutus kapasitas publik selama dia menjalani hukuman pidana.

"Nah kalau sipirnya sudah main mata, sudah mau lihat-lihat, dan seterusnya, maka itu akan dibaca oleh si narapidana sebagai kesempatan untuk berbuat lebih," katanya kepada BBC Indonesia.

Maka dari itu, Adrianus berpendapat pemerintah juga perlu melakukan rotasi petugas lapas untuk mencegah mereka "berkarat".

"Kalau bisa orang-orangnya, mulai dari kalapas hingga kesatuan pengamanan kalau bisa diputar juga setiap tiga-empat tahun sehingga tak berurat-berakar dia. Selama ini yang diputar begitu paling-paling hanya jajaran kalapas, wakalapasnya saja.

"Sementara untuk jabatan kasi ke bawah itu, yang adalah orang-orang lokal, itu umumnya jarang sekali mendapatkan suatu rotasi. Alhasil dia kemudian berkarat di situ, memiliki jaringan di situ, dan pengaruh juga sehingga kalau dia diapa-apain oleh penjara, tinggal dia kontak anak buahnya sehingga terjadilah gejolak," tutur Andrianus. Sumber: Bbc
Share this article :

Post a Comment

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. wong Daile - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger